Urbanisasi

BAB II
PEMBAHASAN

 

Pengertian Urbanisasi

Istilah “Urbanisasi” adalah istilah yang banyak dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan baik di Indonesia, maupun di negeri lain. Istilah tersebut tidak hanya dikenal, tetapi juga dialami oleh penduduk kota dan desa terutama di negara yang sedang berkembang.

Urbanisasi merupakan gejala, atau proses yang sifatnya multi-sektoral, baik ditinjau dari sebab maupun akibat yang ditimbulkan. Permasalahan nampak sederhana namun sefatnya sangat kompleks. Menurut Kantsebovskaya (1976) “Being a complex socio-economics process closely connected with the scientific tecnological revolution. As a complex many-sided process its study requires, a comprehensive approach in involving many disciplines”.

Urbanisasi di negara Indonesia mengalami peningkatan yang cukup berarti, sehingga kecenderungan semakin meluasnya problema sosial ekonomi di berbagai kota di Indonesia dapat mengakibatkan problema nasional dan menjadi masalah sosial bagi negara Indonesia.

Pengertian lain dari Urbanisasi itu sendiri adalah berpindahnya penduduk dari desa ke kota, pada umumnya mereka bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka dan mengadu nasib dikota.

 

Pengertian Urbanisasi Menurut Para Ahli

  1. Menurut J.H. De Goede Urbanisasi diartikan sebagaiproses pertambahan penduduk pada suatu wilayahperkotaan (urban) ataupun proses transformasi suatuwilayah berkarakter perdesaan (rural) menjadi urban.
  2. Menurut Kantsebovskaya (1976) Urbanisasi merupakangejala, atau proses yang sifatnya multi-sektoral, baikditinjau dari sebab maupun akibat yang ditimbulkan.
  3. Urbanisasi dapat diartikan sebagai pertambahanpenduduk perkotaan (Shryyock dan Siegel, 1976)

PengertianUrbanisasi Dari BeberapaDisiplin Ilmu

  1. Perspektif ilmu pengetahuan social melihaturbanisasi sebagai tambahan proses-prosesyang bersifat kekotaan.
  2. Perspektif ilmu kependudukan, definisiurbanisasi berarti persentase penduduk yangtinggal di daerah perkotaan.

Arti Dan Konsep Urbanisasi.

Urbanisasi Sebagai Gejala Geografis.

Dintinjau dari konsep keruangan dan ekologis, urbanisasi merupakan gejala geografis, karena :

a). Adanya gerakan/perpindahan penduduk dari satu wilayah atau perpidahan penduduk ke luar wilayahnya.

b). Gerakan/perpindahan penduduk yang terjadi disebabkan adanya salah satu komponen dari ekosistemnya berkurang/tidak berfungsi secara baik, sehingga terjadi ketimpangan dalam ekosistem setempat.

c). Terjadinya adaptasi ekologis yang baru bagi penduduk yang pindah dari daerah asal ke daerah yang baru, dalam hal ini kota.

Dapat juga urbanisasi dipandang sebagai suatu proses dalam arti sebagai berikut :

  1. Meningkatnya jumlah penduduk kota menjadi lebih menggelembung atau membengkak sebagai akibat dari pertambahan penduduk, baik oleh hasil kenaikan fertilitas penghuni kota maupun karena adanya tambahan penduduk dari desa yang bermukim dan berkembang di kota.
  2. Bertambahnya jumlah kota dalam suatu negara atau wilayah sebagai akibat dari perkembangan ekonomi, budaya dan teknologi yang baru.
  3. Berubahnya kehidupan desa atau suasana desa menjadi suasana kehidupan kota.

Urbanisasi dapat menimbulkan beberapa permasalahan baik bagi kota maupun bagi desa. Secara umum dapat dikatakan bahwa keseimbangan hidup kota dan desa mengalami perubahan atau guncangan dengan adanya urbanisasi.

Konsep urbanisasi ini memiliki dua arti yaitu :

a)      Urbanisasi dalam arti sempit, yaitu menyangkut pertambahan kota dan pentingnya kota terhadap kehidupan masyarakat.

b)      Urbanisasi dalam arti luas, yaitu menyangkut suatu proses sosiologi ekonomis yang mempunyai banyak segi.

Urbanisasi ternyata memiliki dwi fungsi, disatu pihak sebagai daya tarik penduduk desa ke kota, di lain pihak berfungsi sebagai penyebar pengaruh cara hidup atau way of life. Dengan kata lain urbanisasi mempunyai sifat atau daya sentripetal dan sentrifugal.

 

Faktor-faktor urbanisasi[1]:

• Faktor ekonomi

Faktor ekonomi merupakan faktor utama yang meyumbang kepada berlakunya proses migrasi ini. Kedudukan ekonomi yang mantap dan kukuh menyebabkan wujudnya banyak sektor-sektor pertanian, pembinaan dan perkilangan, sekaligus membuka peluang kepada rakyat sesebuah negara termasuk juga golongan pendatang yang datang khususnya untuk mencari rezeki di negara orang.

• Faktor Sosio-Budaya

Sebenarnya faktor sosio-budaya juga memainkan peranan utama menyebabkan pendatang Indonesia semakin bertambah dari hari ke hari ke negara kita. Bahkan boleh dikatakan faktor sosiobudaya ini memainkan peranan yang sama pentingnya dengan faktor ekonomi, mennjadi daya tarikan kepada pendatang Indonesia ini.

• Faktor Kestabilan Politik

Kestabilan politik sesebuah negara memainkan peranan yang penting dan berkait rapat dengan ekonomi negara dan proses migrasi antarabangsa. Sebuah negara yang aman dan makmur secara tidak langsung dapat mengelakkan berlakunya migrasi penduduk negara tersebut ke negara lain, sebaliknya menyebabkan penduduk negara lain berhijrah ke negara tersebut.

 

Faktor Pendorong dan Penarik Urbanisasi

Pada dasarnya ada dua pengelompokan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi, yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor).

Faktor-faktor pendorong (push factor) antara lain adalah:

  • Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan seperti menurunnya daya dukung lingkungan, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian.
  • Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal (misalnya tanah untuk pertanian di wilayah perdesaan yang makin menyempit).
  • Adanya tekanan-tekanan seperti politik, agama, dan suku, sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal.
  • Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.
  • Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami, musim kemarau panjang atau adanya wabah penyakit.

Faktor-faktor penarik (pull factor) antara lain adalah:

  • Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaikan taraf hidup.
  • Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
  • Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik lainnya.
  • Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan sebagai daya tarik bagi orang-orang daerah lain untuk bermukim di kota besar.

 

Teori Malthus[2]

Teori Kependudukan Malthus (pertumbuhan penduduk) yang menyatakan bahwa:

“ Pertumbuhan penduduk menurut deret ukur dan pertumbuhan ekonomi menurut deret hitung” 

.Maksudnya adalah bahwa jumlah penduduk akan berkembang lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi sehingga mengakibatkan upah tenaga kerja menjadi sangat murah danhanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari (subsistensi).

Malthus memulai dengan merumuskan dua postulat yaitu:

  1. Bahwa pangan dibutuhkan untuk hidup manusia
  2. Bahwa kebutuhan nafsu seksuil antar jenis kelamin akan tetap sifatnya sepanjangmasa.

Atas dasar postulat tersebut Malthus menyatakan bahwa, jika tidak ada pengekangan,kecenderungan pertambahan jumlah manusia akan lebih cepat dari pertambahan subsisten(pangan). Perkembangan penduduk akan mengikuti deret ukur sedangkan perkembangansubsisten (pangan) mengikuti deret hitung dengan interval waktu 25 tahun seperti berikut:

Penduduk:

1      2      4      8      16      32      64      128       dst

Subsisten:

(pangan)    1       2        3       4       5        6       7        8        dst

a)      Stetement:

Dari postulat Malthus, terdapat pengekangan perkembangan penduduk dapat berupa pengekangan segera dan pengekangan hakiki/mutlak. Yang dimaksud dengan factor  pengekangan adalah pangan, sedangkan pengekangan segera dapat berbentuk pengekangan prefentif dan pengekangan positif. Pengekangan prefentif adalah factor-faktor yang bekerjamengurangi angka kelahiran.Pengekangan prefentif yang dianjurkan Malthus adalah pengendalian diri dalam hal nafsu seksuil antar jenis seperti penundaan perkawinan. Pengekangan positif merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi angka kematian ; dapat berupa epidemi, penyakit-penyakit dan kemiskinan.

Namun teori kependudukan Malthus memiliki kelemahan-kelemahan, diantaranya:

  1. Malthus terlalu menekankan keterbatasan persediaan tanah meskipun dia adalah salahseorang pengajur industrialisasi dan penggunaan tanah secara lebih efisien. Kenyataan dalamsetelah Malthus menunjukkan bahwa perbaikan teknologi pertanian seperti penggunaan pupuk buatan, pemakaian pestisida, dan irigasi yang efisien menghasilakan peningkatan produktivitas.
  2. Dia kurang memperhitungkan bahwa, penemuan-penemuan baru, teknologi unggul danindustrialisasi dapat memberikan efek yang cukup berarti pada peningkatan tingkat hidup.

Sedangkan dalam ruang ketahanan pangan, untuk pertama kali hubungan antara pangan dan penduduk teori Malthus untuk pertama kali hubungan antara pangan dan penduduk dibicarakansecara sistematis oleh Malthus sekitar abad ke-19.Namun pada hakekatnya masalah pangantelah ada pada masa-masa sebelumnya.Di berbagai negeri, masa-masa makmur sering diselingioleh kekurangan pangan atau bahkan kelaparan masal yang merenggut banyak jiwa manusia.

Banyak faktor penyebab lemahnya ketahanan pangan nasional yang berakhir pada ironi bangsa. Dengan SDA memadai serta luas lahan pertanian sebesar 107 juta hektar dari total luasdaratan Indonesia sekitar 192 juta hektar, ternyata masih menyimpan cerita-cerita pilu.Berdasarkan dataBiro Pusat Statistik (2002), tidak termasuk Maluku dan Papua, sekitar 43,19 juta hektar telah digunakan untuk lahan sawah, perkebunan, pekarangan, tambak dan lading;lebih kurang 2,4 juta hektar untuk padang rumput, sedangkan 8,9 juta hektar untuk tanamankayu-kayuan; dan lahan yang tidak diusahakan seluas 10,3 juta hektar (Republika, 16/6/2006).

Faktor tersebut antara lain tidak berimbangnya produksi pangan dengan populasi penduduk.Aksioma Robert Malthus tentang deret ukur dan deret hitung agaknya dapat dirujuk di sini.Kendati tidak berlaku pada seluruh negara, tapi bagi negara berkembang yang sering dilandakasus pangan, Malthus mendekati benar. Konon 10% anak-anak di negara berkembangmeninggal sebelum mereka berusia lima tahun. Kebanyakan dari kematian karena lapar disebabkan oleh malnutrisi yang kronis akibat penderita tidak mendapatkan makanan yangcukup.Sering kali hal ini terjadi karena kemiskinan yang parah.

Terancam kelaparan saat ini, diantaranya 4,35 juta tinggal di Jawa Barat. Ancaman kelaparanini akan semakin berat, dan jumlahnya akan bertambah banyak. Seiring dengan mereka yangterancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp.30.000,00.

Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan. Dari jumlah itu, sebanyak 50.333 berasal dari Jawa Barat, diantaranya 10.430 tinggal di Kabupaten Bandung dan 15.334 orang tinggal diKabupaten Garut. Mereka yang digolongkan terancam kelaparan dengan keadaan palingmengkhawatirkan adalah penduduk dengan pengeluaran per kapita di bawah Rp 15.000,00 per  bulan sebanyak 14.108.

b)     Keterkaitan teori Malthus dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan  ketahanan  pangan

Usaha dari banyak Indonesia untuk menyediakan pangan bagi penduduk adalah dengangiat melakukan pembangunan atau modernisasi pertanian. Usaha ini dilakukan baik melalui perluasan tanah pertanian yang ada (ekstensifikasi) maupun meningkatkan produksi per hektarnya (intensifikasi)

Indonesia tercatat baru pada tahun 1968-1969 sebagai peserta revolusi hijau dengan luasareal 198.000 hektar yang pada tahun 1972-1973 menjadi 1.521.000 hektar, meskipunsesungguhnya Indonesia telah memulainya sekitar tahun 1964-1965. Pada tahun 1973 produksi padi dengan Bimas telah mencapai 52 kuital per hektar dan dengan Inmas 40 kuintal per hektar.

Adapun program transmigrasi setelah Indonesia merdeka dalam Pola Umum Pelita Ktiga(Lihat GBH N, TAP MPR No. II/MPR/1978) disebutkan antara lain: “Program transmigrasiditujukan untuk meningkatkan penyebaran penduduk dan tenaga kerja serta pembukaan dan pengembangan daerah produksi dan pertanian  baru dalam  rangka pembangunan daerah  khususnya di luar Jawa, yang dapat menjamin taraf hidup para transmigran, dan taraf hidupmasyarakat sekitar”.

Program Keluarga Berencana merupakan upaya pemerintah dalam mencegah danmengatur kelahiran.Pemerintah melaluivBadan Koordinasi KeluargaBerencana Nasionak (BKKBN) bergerak dalam penyebaran alat-alat dan pengetahuan kontrasepsi. Setiap desa dankota Petugas Lapang KB siap membantu keluarga-keluarga yang ingin memasuki program KB.

Dampak Urbanisasi[3]

Dampak Urbanisasi terhadap Daerah Asal

Sebelum dilakukan pembahasan tentang dampak urbanisasi terhadap kehidupan masyarakat daerah asal, ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu secara sepintas tentang liku-liku kehidupan mereka di kota tujuan. Penjelasan yang dikemuka-kan di dasarkan atas wawancara mendalam dengan beberapa informan dan juga atas pengamatan dalam beberapa kali kunjungan di tempat tinggal mereka di kota, khususnya yang ada di Jakarta.

Sebagai pendatang  di kota besar,  mereka perlu   proses adaptasi, untuk bisa bertahan hidup di kota. Dalam proses adaptasi pada berbagai aspek kehidupan di kota ini, peranan kerabat, teman, dan tetangga sedesa asal sangat penting. Pada awal kedatangan di kota umumnya mereka menumpang untuk sementara di tempat tinggal orang-orang yang telah terlebih dahulu berurbanisasi. Sedangkan dalam hal pekerjaan seringkali mereka magang terlebih dahulu kepada “seniornya” dengan cara mengikuti dan membantu pekerjaan yang dilakukan “seniornya” tersebut. Bila dirasa sudah mampu   barulah  dilepas untuk bekerja sendiri.

Dengan latar belakang pendidikan yang relatif  rendah, umumnya  hanya berpendidikan sekolah dasar, dan keterbatasan  ketrampilan modern yang memadai, sebagian besar dari mereka melakukan pekerjaan dalam bentuk usaha mandiri kecil-kecilan, dengan meng-gunakan peralatan dan ketrampilan seder-hana yang dikuasainya. Mereka bekerja se-bagai pedagang keliling seperti penjual bakso, mie ayam, buah dingin, es, soto ayam, jamu, atau mainan anak-anak; peda-gang kaki lima; tukang ojek; pengemudi bajaj; atau pekerjaan-pekerjaan lain yang umumnya merupakan bagian dari sektor informal di kota. Kemudahan memasuki la-pangan kerja di sektor informal nampaknya menjadi faktor utama yang menyebabkan mereka umumnya memasuki sektor ini.

Mereka beranggapan hi-dup di kota hanya untuk sementara waktu, sekalipun sebenarnya telah tinggal di kota puluhan tahun. Mereka masih tetap merasa sebagai orang desa, bahkan dari segi status kependudukan secara formal pun masih sebagai orang desa, hal ini ditunjukkan dari pemilikan KTP mereka. Dalam hal tempat tinggalpun mereka umumnya tidak pernah berfikir untuk memiliki tempat tinggal sendiri di kota, sehingga umumnya mereka kost atau kontrak kamar secara patungan satu kamar dihuni beberapa orang. Pengamatan yang dilakukan terhadap bebe-rapa lokasi menunjukkan bahwa tempat tinggal mereka umumnya nampak berjubel, sumpek, pengap, panas, dan umumnya ku-rang memenuhi syarat kesehatan. Terkesan bahwa rumah atau kamar yang mereka tempati di kota hanya untuk tempat tinggal sementara, sekedar tempat untuk beristira-hat. Pemilihan tempat tinggal yang demikian barangkali terkait dengan mahalnya sewa rumah/kamar di kota. Yang menarik bahwa tempat tinggal mereka di kota ini seringkali sangat bertolakbelakang dengan kondisi rumah yang mereka miliki di desa yang umumnya dibangun secara bagus. Hal ini akan dijelaskan pada bagian berikut.

Orang-orang Desa Jetis yang telah “berhasil” hidupnya di kota, pada umumnya masih mengadakan hubungan dengan desa asal, bahkan mengirimkan sebagian pengha-silannya ke desa asal. Namun bila disimak lebih mendalam, keberadaan urbanisasi ternyata tidak selalu membawa akibat yang menguntungkan bagi warga pedesaan.

Dampak Urbanisasi dalam Aspek Sosial Ekonomi

Sekalipun para urbanisan umumnya bekerja di sektor informal, tetapi dari segi penghasilan, dapat dikatakan cukup lumayan.Paling tidak, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan peng-hasilan yang bisa diperoleh di desa asalnya. Menurut I nforman, seorang penjual jamu dalam sehari  memperoleh penghasilan Rp 20.000,- atau lebih, demikian juga pedagang yang lain pendapatan yang diperoleh tidak kurang dari Rp 10.000,- per hari. Upah sebagai buruh tani di desa paling tinggi Rp 5000,-. Peng-hasilan yang diperoleh para migran asal Desa Jetis nampaknya sesuai dengan temuan Papanek (1986:230) yang menunjukkan bahwa para migran ke kota umumnya bernasib lebih baik daripada ketika masih di pedesaan. Pendapatan mereka rata-rata meningkat dua pertiga kali lipat.

Tingginya kesenjangan pendapatan antara yang diperoleh di desa dengan di kota inilah barangkali yang menjadi penyebab utama banyaknya penduduk Desa Jetis melakukan urbanisasi. Temuan di atas nampaknya sejalan dengan pemikiran (Todaro, 1970:126) yang menyatakan bahwa keputusan bermigrasi merupakan suatu respons terhadap harapan tentang penghasil-an yang akan diperoleh di kota dibanding dengan yang diterima di desa, dan kemung-kinan memperoleh pekerjaan di kota.

Dijelaskan oleh beberapa informan bahwa tidak semua yang berurbanisasi dapat atau berhasil meningkatkan kehidupannya, ada di antaranya yang gagal sehingga memilih kembali tinggal di desa, namun tidak sedikit yang masih tetap bertahan tinggal di kota, meski dengan kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga hampir tidak mampu untuk menyisihkan sebagian peng-hasilannya untuk ditabung. Secara lebih detail dapat dikemukakan tentang dampak urbanisasi dalam aspek sosial ekonomi.

Pertama, keberhasilan para migran yang melakukan urbanisasi dalam meningkatkan pendapatannya sebagian digunakan untuk membangun rumah di desa.Kenyataan itu dapat dilihat di desa Jetis, seperti misalnya banyak pembangunan rumah-rumah baru yang lebih permanen dan memenuhi syarat kesehatan. Rumah-rumah baru yang mereka bangun tersebut telah dilengkapi dengan perabotan rumah tangga modern, misalnya TV, Radio tape, kulkas, sepeda motor, dsb. Kemampuan untuk membangun rumah baru dan membeli perlengkapan rumah tangga ini tentu saja sesuai dengan kemampuan masing-masing migran.Berdasarkan pengamatan ada rumah yang dibangun bertingkat, pada hal menurut informasi pemilik rumah tidak lulus SD, dan bekerja sebagai pedagang di Jakarta. Kondisi tempat tinggal yang mereka miliki di desa ini seringkali bertolak belakang dengan kondisi tempat tinggal mereka selama hidup di kota, sebagaimana telah disinggung terdahulu.

Rumah-rumah baru umumnya dibangun dengan arsitektur model, akibatnya berdampak pada pembongkaran rumah tradisional yang kemudian dirubah menjadi model baru. Hal ini amat disayangkan karena rumah-rumah dengan arsitektur tradisional yang sebagian besar bahannya terbuat dari kayu semakin berkurang jumlahnya, dan dikhawatirkan nantinya akan semakin langka.

Kelebihan penghasilan yang diwujudkan dalam bentuk bangunan rumah ini juga menunjukkan keterbatasan imajinasi budaya mereka.Barangkali dilihat dari kacamata pemikiran rasional ekonomis, kelebihan penghasilan itu dapat digunakan oleh mereka untuk memperkuat modal usaha, tetapi hal ini nampaknya tidak banyak dilakukan oleh penduduk desa Jetis. Kelebihan penghasilan justru mereka guna-kan untuk membangun rumah baru di desa sementara mereka sendiri bekerja di kota, sehingga rumah-rumah yang telah terbangun megah tersebut ada yang tidak berpenghuni, atau hanya dihuni di saat mereka pulang kampung saja; tetapi ada juga yang ditem-pati oleh anak-anaknya saja sementara orang tuanya berada di kota; dan ada juga meminta kerabatnya, biasanya yang sudah tua, atau orangtuanya untuk menunggui rumah. Beberapa rumah bahkan ditempati orang dari luar daerah yang bekerja di sekitar desa, sementara mereka belum memiliki rumah sendiri.Dalam kasus demikian, biasanya mereka tidak diminta untuk membayar sewa rumah, melainkan hanya diminta merawat selama menempati rumah tersebut.

Kedua, ada yang memiliki kemampuan untuk menginvestasikan kelebihan penghasilannya dalam bentuk sawah dan pekarangan di desa. Hal ini dipandang sebagai dampak positif, artinya mereka telah mempunyai orientasi ke masa depan. Keinginaan menginvestasikan uang dalam bentuk tanah dan pekarangan di desa asal ini berkait dengan keinginan sebagian besar migran yang nantinya setelah tua mereka kembali ke desa.

Ketiga, keberhasilan migran di kota memberikan dampak pada kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan. Dengan kelebihan penghasilan selama mereka bekerja di kota, akan berimbas pada keluarganya yang ditinggal di desa, sehingga dari segi pemenuhan kebutuhan hidup menjadi lebih baik. Sebagai orang desa yang hidup dalam keadaan subsistensi, ukuran kesejahteraan bagi mereka adalah terpenuhinya kebutuhan hidup mereka secara ekonomi, apalagi bila ada kelebihan penghasilan yang dapat diinvestasikan dalam bentuk lain. Bagi mereka, nampaknya tidak terlalu mempersoalkan apakah mereka berkumpul terus dengan keluarganya atau tidak, yang dipentingkan adalah terpenuhinya kebutuhan ekonomi.Hal ini dibuktikan dari ungkapan beberapa informan yang menyatakan bahwa dewasa ini mereka merasa lebih sejahtera dan lebih tenteran hidupnya, sekalipun harus berpisah sementara dengan keluarganya.

Keempat, keberhasilan meningkatkan penghasilan ini juga berdampak pada perbaikan fasilitas umum yang pembiaya-annya dilakukan secara swadaya.Dana untuk membangun fasilitas umum tersebut sebagian besar diperoleh dari penduduk yang melakukan urbanisasi.Berbagai fasilitas umum yang mengalami perbaikan di antaranya jalan-jalan desa yang sebagaian besar sudah diaspal, jembatan, dan tempat peribadatan. Dengan perbaikan prasarana jalan ini akan sedikit banyak mempengaruhi perekonomian desa.

Kelima, dalam bidang pertanian, keberhasilan dalam urbanisasi ini membawa dampak yang kurang mengun-tungkan.Kegiatan pertanian yang kurang diperhatikan sejak keber-hasilan penduduk Desa Jetis dalam bidang industri tenun pada beberapa dekade sebelumnya terus berlanjut hingga sekarang, apalagi sebagian penduduk berurbanisasi.Pada saat industri tenun masih jaya, banyak di antara pemilik sawah yang juga sebagai pengusaha tenun tidak mengerjakan sendiri sawah miliknya, karena penghasilan yang diperoleh waktu itu lebih kecil dibanding penghasilan dalam bidang industri tenun.Demikian juga penghasilan sebagai buruh tani lebih kecil dibanding sebagai buruh industri.Akibatnya pekerjaan di bidang pertanian lebih banyak dilakukan dengan mendatangkan buruh dari luar daerah.Saat ini, keberhasilan urbanisasi menyebabkan mere-ka semakin enggan pergi ke sawah, apalagi untuk generasi mudanya yang umumnya hampir tidak pernah bekerja di bidang pertanian.Karena itu, dewasa ini kesulitan yang dihadapi pemilik sawah adalah men-cari buruh tani, karena desa-desa lain di sekitarnya banyak warganya yang sekarang juga melakukan urbanisasi.Akibatnya, para pemilik sawah seringkali harus menda-tangkan buruh tani dari wilayah Kabupaten Purwodadi untuk menggarap sawahnya.Bahkan kadang-kadang ada sawah milik warga Desa Jetis yang terpaksa terbengkelai tidak tergarap karena kesulitan mencari buruh tani untuk menggarapnya.

Dampak Urbanisasi dalam Aspek Sosial-Budaya

Perbincangan mengenai akibat urbanisasi bagi masyarakat desa, selama ini lebih banyak mengungkapkan pada aspek sosial ekonomi, sementara sorotan terhadap aspek sosial budaya dirasakan masih kurang. Pada hal sebagaimana dinyatakan beberapa ahli seperti Zelinsky (1971:222) dan Lewis (1982:168) bahwa mobilitas penduduk me-megang peranan penting dalam perubahan sosial-budaya dengan cara membawa ma-syarakat dari kehidupan tradisional ke sua-sana dan cara hidup modern yang dibawa dari luar. Perubahan tersebut termasuk per-geseran nilai dan norma serta jaringan dan pola hubungan kekerabatan di pedesaan.

Sebenarnya tidaklah mudah menge-mukakan perubahan yang terjadi pada aspek sosial budaya ini, karena tidak begitu nampak secara nyata seperti halnya pada perubahan sosial ekonomi.Sehingga untuk mengetahuinya diperlukan pengamatan yang agak intensif dan wawancara mendalam dengan beberapa tokoh masyarakat yang benar-benar menguasai pemasalahan. Bebe-rapa perubahan dalam aspek sosial budaya antara lain tersebut di bawah ini.

Pertama, perubahan yang paling nampak dalam aspek sosial budaya adalah dalam bidang pendidikan.Beberapa infor-man mengemukakan bahwa sejak sekitar dua puluh tahun terakhir ini, yaitu sejak berangsurnya penduduk Desa Jetis melaku-kan urbanisasi, maka kesadaran penduduk untuk menyekolahkan semakin meningkat. Bila pada tahun 1970-an kebanyakan orang tua hanya menyekolahkan hingga tamat SD, dan sangat sedikit yang menyekolahkan hingga sekolah lanjutan, kini sebagian besar telah menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke jenjang sekolah lanjutan atas, bahkan hingga perguruan tinggi. Di desa Jetis, tidaklah aneh bila orang tuanya   bekerja di kota sebagai pedagang bakso, sementara anaknya kuliah di perguruan tinggi. Tanpa mengabaikan pengaruh varia-bel lain, misalnya fasilitas pendidikan yang semakin banyak hingga ke pelosok desa, urbanisasi berdampak pada peningkatan kesadaran menyekolahkan anak, wawasan dan pemikiran semakin terbuka setelah ba-nyak berhubungan dengan masyarakat luar, dan melihat perkembangan pembangunan yang terjadi di tempat lain. Apalagi ke-sadaran ini semakin ditunjang peningkatan pendapatan sehingga mereka mampu membiayai pendidikan anaknya.

Kedua, urbanisasi juga berdampak pada perubahan peranan dan tanggung jawab wanita. Kenyataan ini terutama nampak pada wanita yang ditinggal suaminya bekerja di kota, mereka harus bertindak sebagai kepala rumah tangga selama suaminya tidak ada di rumah. Wanita tidak hanya bertanggung jawab atas kegiatan di dalam rumah tangga, tetapi juga harus melakukan kegiatan kemasyarakatan atas nama suami.  Secara tidak langsung mengubah kebiasaan menempat-kan kaum wanita hanya sebagai ibu rumah tangga serta berurusan dengan kegiatan wanita saja.Sebagaimana program pemerintah yang menuntut kaum wanita untuk turut serta dalam kegiatan di luar rumah tangga.

Ketiga, dampak urbanisasi juga ter-lihat pada kelembagaan keluarga, khususnya dalam sistem perkawinan, di mana sekarang ini orang tua tidak lagi dominan dalam menentukan pilihan jodoh bagi anaknya. Dalam kasus di Desa Jetis ini, banyak di antara pemuda-pemudinya yang memperoleh pasangan hidup dari luar daerah atas dasar pilihannya sendiri, dan kebanyakan jodohnya tersebut diperoleh di kota tempat mereka bekerja. Dampak lain adalah semakin meningkatnya usia perka-winan. Kalau pada tahun 1970-an anak gadis yang belum berumur 18 tahun sudah di-nikahkan, kini umur kawin telah meningkat dan cenderung “diprogram” oleh mereka sendiri.

Keempat, urbanisasi memberikan pengaruh pada meluasnya kerangka pemi-kiran penduduk desa serta mengubah perilaku masyarakat dari orientasi sosial ke orientasi komersial. Dalam hal ini telah terjadi perubahan apresiasi nilai uang pada seluruh warga desa, atau dengan kata lain meminjam istilah beberapa ahli, di desa tersebut telah terjadi monetisasi dan komersialisasi aktivitas yang semula bersifat sosial. Kegiatan gotong-royong yang selama ini dipandang merupakan aktivitas luhur yang kita banggakan kini semakin luntur. Contoh nyata dalam hal ini adalah bahwa dewasa ini kegiatan memperbaiki rumah, membangun pagar, membuat sumur, dan kegiatan-kegiatan lain di sekitar rumah tangga sekarang tidak lagi dilakukan dengan cara sambatan atau tolong-menolong antar tetangga, melainkan dilakukan dengan membayar tenaga tukang.

Kelima, dari segi hubungan kekera-batan, urbanisasi sering diasosiasikan dengan melemahnya atau longgar-nya hubungan kekerabatan. Dengan kata lain, makin meningkat kegiatan mobilitas penduduk akan semakin melonggarkan ke-terikatan mereka dengan kehidupan pen-duduk setempat. Lemahnya hubungan keke-rabatan sebenarnya tergantung dari persepsi yang diberikan.Secara fisik, memang kepergian mereka ke luar desa mengaki-batkan semakin berkurangnya kesempatan mereka untuk mengikuti acara atau peris-tiwa sosial di desa.Tetapi secara batiniah hubungan dan ikatan dengan daerah asal itu ada beragam perilaku.Ada yang memang merasa masih memiliki ikatan kuat dengan kerabatnya di desa.Hal ini ditunjukkan dengan perilaku kepulangan mereka setiap saat ke desa asal.Tetapi ada pula yang sudah mulai “ogah-ogahan” pulang ke desa, dan dengan demikian ikatan kekerabatan juga sudah melonggar.

Keenam, secara sosial, urbanisasi akan berpengaruh pada kesejahteraan ke-luarga migran yang bersangkutan. Hal ini berkait dengan kehidupan keluarga mereka yang terpaksa harus hidup terpisah sampai jangka waktu yang tidak diketahui batasnya. Sekalipun mereka pada waktu-waktu ter-tentu pulang ke desa, namun kese-jahteraan keluarga akan lebih terjamin bila mereka selalu berkumpul dalam satu rumah. Namun demikian, hal ini nampaknya tidak terlalu dirisaukan oleh orang desa, sebagai masyarakat desa yang biasa hidup sub-sistensi, nampaknya pemenuhan kebutuhan ekonomi lebih mendominasi pemikiran mereka dalam soal kesejahteraan hidupnya.

Ketujuh, orang-orang “sukses” di kota ini dapat menumbuhkan kemampuan dan keinginan untuk berkompetisi atau bersaing. Dari sisi positif kompetisi dan persaingan ini akan sehat dan baik apabila mendorong mereka terpacu dan semakin giat bekerja, sehingga keberhasilan ini akan semakin dapat dirasakan penduduk desa. Di sisi lain kompetisi dan persaingan ini akan menjadi tidak sehat karena membuahkan perilaku budaya baru yang disebut dengan budaya “pamer” dengan menggunakan ke-kuatan ekonomi. Karena budaya “pamer” ini tidak sesuai dengan budaya Jawa yang berusaha untuk konform dengan lingkungan sekitar.Dalam hal ini, orang mencari penga-kuan dan kehormatan melalui kekayaannya. Data di atas sesuai dengan sinyalemen Saefullah (1994:40) yang menyatakan penggunaan uang untuk membeli tanah, mendirikan rumah, membeli sepeda motor, dan alat-alat rumah tangga modern tam-paknya terdorong oleh apirasi mobilitas sosial.

Kedelapan, pengaruh urbanisasi juga nampak pada kebiasaan berpakaian dan makan.Perubahan dalam hal berpakaian tidak semata-mata karena evolusi alamiah, melainkan juga karena ada kontak dengan dunia luar atau ada pihak yang memper-kenalkan. Media massa dan iklan dapat mempengaruhi kebiasaan masyarakat dalam berpakaian dan makan, tetapi dampaknya tidak akan efektif apabila tidak ada orang yang memberikan contoh nyata dalam kesehariannya. Setelah melihat cara-cara baru berpakaian dan mengenal macam-macam makanan modern sekembalinya ke desa diperlihatkan kepada orang-orang desa.

Kesembilan, perubahan juga nampak pada pergaulan remaja, serta interaksi antara generasi muda dengan orang tua.Dari sisi positif, urbanisasi mendorong penduduk untuk memperluas pergaulan dan penga-laman, dengan akibat lebih lanjut pada keinginan mereka untuk meningkatkan ke-mampuan diri. Sedangkan di pihak lain sebagian remaja yang pergi ke kota mem-bawa kebiasaan baru yang bersifat negatif yang diperolehnya di kota seperti minum-minuman yang mengandung alkohol, ber-judi. Dampak negatif yang lain adalah mulai berkurangnya penghormatan terhadap orang tua. Memang hanya sedikit warga Desa Jetis yang melakukan kegiatan negatif semacam itu, meskipun demikian perilakunya dapat mengganggu kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal interaksi antara generasi muda dengn orang tua seringkali ditemui adanya kesenjangan, baik dalam hal nilai, norma dan berakibat pada perilaku kesehariannya.

Dampak Urbanisasi terhadap Lingkungan kota

Akibat dari meningkatnya proses urbanisasi menimbulkan dampak-dampak terhadap lingkungan kota, baik dari segi tata kota, masyarakat, maupun keadaan sekitarnya.

Dampak urbanisasi terhadap lingkungan kota antara lain[4]:

  1. Semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan

Pertambahan penduduk kota yang begitu pesat, sudah sulit diikuti kemampuan daya dukung kotanya. Saat ini, lahan kosong di daerah perkotaan sangat jarang ditemui.ruang untuk tempat tinggal, ruang untuk kelancaran lalu lintas kendaraan, dan tempat parkir sudah sangat minim. Bahkan, lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun sudah tidak ada lagi.Lahan kosong yang terdapat di daerah perkotaan telah banyak dimanfaatkan oleh para urban sebagai lahan pemukiman, perdagangan, dan perindustrian yang legal maupun ilegal.Bangunan-bangunan yang didirikan untuk perdagangan maupun perindustrian umumnya dimiliki oleh warga pendatang.Selain itu, para urban yang tidak memiliki tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong sebagai pemukiman liar mereka.hal ini menyebabkan semakin minimnya lahan kosong di daerah perkotaan.

  1. Menambah polusi di daerah perkotaan

Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh pendidikan, umumnya memiliki kendaraan. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri kota yang terus menerus, menimbulkan berbagai polusi atau pemcemaran seperti polusi udara dan kebisingan atau polusi suara bagi telinga manusia.

  1. Penyebab bencana alam

Para urban yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong di pusat kota maupun di daerah pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk mendirikan bangunan liar baik untuk pemukiman maupun lahan berdagang mereka. Hal ini tentunya akan membuat lingkungan tersebut yang seharusnya bermanfaat untuk menyerap air hujan justru menjadi penyebab terjadinya banjir. Daerah Aliran Sungai sudah tidak bisa menampung air hujan lagi.

  1. Pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi

Kepergian penduduk desa ke kota untuk mengadu nasib tidaklah menjadi masalah apabila masyarakat mempunyai keterampilan tertentu yang dibutuhkan di kota. Namun, kenyataanya banyak diantara mereka yang datang ke kota tanpa memiliki keterampilan kecuali bertani. Oleh karena itu, sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mereka terpaksa bekerja sebagai buruh harian, penjaga malam, pembantu rumah tangga, tukang becak, dan pekerjaan lain yang sejenis. Bahkan,masyarakat yang gagal memperoleh pekerjaan sejenis itu menjadi tunakarya, tunawisma, dan tunasusila.

  1. Penyebab kemacetan lalu lintas

Padatnya penduduk di kota menyebabkan kemacetan dimana-mana, ditambah lagi arus urbanisasi yang makin bertambah. Para urban yang tidak memiliki tempat tinggal maupun pekerjaan banyak mendirikan pemukiman liar di sekitar jalan, sehingga kota yang awalnya sudah macet bertambah macet. Selain itu tidak sedikit para urban memiliki kendaraan sehingga menambah volum kendaraan di setiap ruas jalan di kota.

  1. Merusak tata kota

Tata kota suatu daerah tujuan urban bisa mengalami perubahan dengan banyaknya urbanisasi. Urban yang mendirikan pemukiman liar di pusat kota serta gelandangan-gelandangan di jalan-jalan bisa merusak sarana dan prasarana yang telah ada, misalnya trotoar yang seharusnya digunakan oleh pedestrian justru digunakan sebagai tempat tinggal oleh para urban. Hal ini menyebabkan trotoar tersebut menjadi kotor dan rusak sehingga tidak berfungsi lagi.

 

Solusi mengatasi Urbanisasi[5]

  1. Peran pemerintah pusat sangat tinggi dalam menciptakan lapangan kerja yang lebih terencana dan permanen di desa, terutama desa tertinggal, lewat menteri yang terkait.
  2. Peranan bupati kepala daerah, pemda, kepala desa sangat dibutuhkan dalam memberi prioritas pembangunan pedesaan terutama dalam pengurangan kemiskinan dan peluang penciptaan tenaga kerja.
  3. Perlu adanya insentif bagi pemuda yang mau membantu atau berperan dalam pembangunan pedesaan,
  4. Perlunya penggalanan dana baik dari pajak, zakat dan shodakoh untuk membangkitkan peluang usaha baru,
  5. Perlu ada komunikasi kota desa sehingga untuk setiap pemuda yang meninggalkan desa harus berkontribusi dalam pembangunan desa,
  6. Hindari profokasi yang berlebihan terhadap enaknya hidup di kota,
  7. Promosikan enaknya hidup di desa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s