Emosi

BAB II PEMBAHASAN MATERI

  1. 1.      Pengertian emosi

Dari segi bahasa kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.[1] Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) emosi adalah luapan perasaan yg berkembang dan surut dalam waktu singkat, keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis. Jadi, emosi adalah emosi adalah suatu keadaan jiwa yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan suatu reaksi psiklogis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta, dan sejenisnya.

Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain:

  • Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona
  • Peredaran darah: bertambah cepat bila marah
  • Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut
  • Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa
  • Pupil mata: membesar bila marah
  • Liur: mengering kalau takut atu tegang
  • Bulu roma: berdiri kalau takut
  • Pencernaan: mencret-mencret kalu tegang
  • Otot: ketegangan dan ketakutanmenyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor)
  • Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.[2]
  1. 2.      Karakteristik Perkembangan Emosi

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”. Suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Remaja juga menyadari bahwa aspek-aspek emosional adalah penting (Jersid, 1957:133).[3]

Berikut ini beberapa kondisi emosional :

  1. Cinta/kasih sayang

Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kekanak-kanakanya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana.

Tidak ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. (Sunarto, 2002:152).

  1. Gembira dan bahagia

Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai.

Perasaan bahagia ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.

  1. Kemarahan dan Permusuhan

Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjolkan dalam perkembangan kepribadian.

  1. Ketakutan dan Kecemasan

Menjelang anak mencapai remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan yang timbul dari persoalan kehidupan. Tidak ada seorangpun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu.

Rasa takut yang disebabkan otoriter orang tua akan menyebabkan anak tidak berkembang daya kreatifnya dan menjadi orang yang penakut, apatis, dan penggugup. Selanjutnya sikap apatis yang ditimbulkan oleh otoriter orang tua akan mengakibatkan anak menjadi pendiam, memencilkan diri, tak sanggunp bergaul dengan orang lain (Willis, 2005:57)

  1. Frustasi dan Dukacita

Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.
Dukacita merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Keadaan ini terjadi bila kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga depresi.[4]

  1. 3.      Jenis-jenis dan Ciri-ciri Emosi[5]
  1. Emosi marah

Penyebab timbulnya emosi marah pada remaja adalah apabila mereka direndahkan, dipermalukan, dihina atau dipojokkan di hadapan kawan-kawannya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukkan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi seperti pada masa kanak-kanak,  tetapi lebih memilih menggerutu, memaki, atau dalam bentuk verbal lainnya.

  1. Emosi takut

Ketakutan tersebut banyak menyangkut ujian yang akan diikuti, sakit, kekurangan uang, rendahnya prestasi, tidak mendapatkan pekerjaan, keluarga yang kurang harmonis, tidak mendapat pacar, memikirkan kondisi fisik yang tidak sesuai harapan. Ketakutan lain adalah kesepian, kehilangan pegangan agama, perubahan fisik, diejek dll.

  1. Emosi cinta

Emosi ini sudah ada semenjak masa bayi dan terus berkembang hingga dewasa. Sedangkan pada masa remaja rasa cinta diarahkan pada lawan jenis. Pada masa bayi rasa cinta diarahkan pada orang tuanya terutama kepada ibu. Pada masa kanak-kanak (3-5 tahun) rasa cinta diarahkan kepada orang tua yang berbeda jenis kelamin, missal anak laki-laki lebih dekat pada ibunya begitu pula anak perempuan yang lebih dekat pada ayahnya.

  1. 4.      Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku

Rasa takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.

Peradangan di dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi. Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tenang.

Seorang siswa tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar. Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.

Reaksi setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan mempermudah siswa dalam belajar.[6]

Adapun empat teori yang menjelaskan hubungan antara emosi dengan tingkah laku, yaitu:

  1. Teori Sentral

Menurut teori ini, gejala kejasmanian termasuk tingkah laku merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu. Teori ini dikemukakan oleh Walter B Canon(Mafhudh Salahudin,1986:264)

  1. Teori Peripheral

Menurut teori ini,bahwa gejala-gejala kejasmanian atau tingkah laku seseorang merupakan akibat dari emosi,yang dialami oleh individu itu,sebagai akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Teori ini dikemukakan oleh James dan Lange(CP Chaplin.1989:264)

  1. Teori Kpribadian

Menurut teori ini, emosi merupakan suatu aktifitas pribadi,dimana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan jasmani.

  1. Teori kedaruratan Emosi (Emergeney Theoryof The Emotion)

Teori ini mengemukakan bahwa reaksi yang mendalam(visceral) dari kecepatan jantung yang semakin bertambah akan menambah cepatnya aliran darah menuju ke urat-urat, hambatan-hambatan pada pencernaan, pengembangan atau pemuaian pada kantung-kantung didalam paru-paru dan proses lainnya yang mencirikan secara khas keadaan emosional seseorang,kemudian menyiapkan organisme untuk melarikan diri atau untuk berkelahi,sesuai dengan penilaian terhadap situasi yang ada oleh kulit otak. Teori ini dikemukakan oleh Cannon (CP Ehaplin,1989:162)[7]

  1. 5.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

 

  1. Internal
  • Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik secara layak sehingga timbul ketidak puasan, kecerdasan dan kebencian terhadap apa yang mereka alami.
  • Merasa dibenci, disia-siakan, tidak mengerti dan tidak diterima oleh siapapun termasuk orang tua mereka.
  • Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah, dihina, serta dipatahkan dari pada disokong, disayangi dan ditanggapi, khususnya ide-ide mereka.
  • Merasa tidak mampu atau bodoh
  • Merasa tidak menyayangi kehidupan keluarga mereka yang tidak harmonis seperti sering bertengkar kasar, pemarah, cerewet atau bercerai.
  • Merasa menderita karena dibedakan secara tidak adil.
  1. Eksternal
  • Orang tua atau guru memperlakukan mereka seperti anak kecil yang membuat harga diri mereka dilecehkan. Missal: orang tua mengetakan “tahu apa kamu, kamu masih anak kecil” ucapan seperti itu sangat  menyinggung harga diri mereka karena merasa tidak dihargai  dan dianggap tidak mampu.
  • Apabila dirintangi membina keakraban dengan lawan jenis, missal orang tua merintangi dengan alasan melanggar nilai-nilai sosial, agama, dll dapat membuat marah.
  • Terlalu banyak dirintangi dari pada disokong, missal mereka lebih banyak disalahkan, dikritik oleh orang tua atau guru, akan cenderung menjadi marah dan mengekspresikannya dengan menentang keinginan orang tua.
  • Disikapi secara tidak adil oleh orang tua, missal dengan cara membandingkan dengan saudaranya yang lebih berprestasi atau anak tetangga dll.
  • Merasa kebutuhan tiadak dipenuhi oleh orang tua padahal orang tua mampu. Mengebaikan karena kurang harmonisnya hubungan mereka atau orang tua lebih memprioritaskan hal-hal lain.
  • Merasa disikapi secara otoriter, seperti dituntut patuh, banyak dicela dihukum dan dihina.[8]

Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi, antara lain adalah:

1)      Belajar dengan mencoba-coba

2)      Belajar dengan cara meniru

3)      Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)

4)      Belajar melalui pengkondisian

5)      Pelatihan atau belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi.[9]

  1. 6.      Perbedaan Individu dalam Perkembangan Emosi

Meskipun pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat perbedaan dalam segi frekuensi, intensitas, serta jangka waktu dari berbagai macam emosi, dan juga saat permunculannya. Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itudan taraf kemampuan intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan.

Ditinjau darikedudukannya sebagai anggota suatu kelompok keluarga, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Cara mendidik otoriter mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara mendidik yang permisif atau demokrasi mendorong berkembangnya semangat rasa kasih sayang. Anak-anak dari kwluarga yang berstatus ekonomi renda cenderung lebih mengembangkan rasa takutdan cemas dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga berstatus sosial ekonomi tinggi.

 

  1. 7.      Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya Bagi Pedidikan 

Suatu sistem sosial yang paling awal berusaha menumbuh kembangkan sistem nilai, moral dan sikap kepada anak-anak adalah keluarga. Ini didorong oleh keinginan dan harapan yang kuat pada orang tua agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang luhur, mampu membedakan antara yang baik dan buruk dan para orang tua menanamkan nilai-nilai luhur,moral dan sikap yang baik bagi anak-anaknya agar dapat berkembang menjadi generasi penerus yang diidamkan. [10]

Emosi negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak memnimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredam emosi adalah :

  1. berfikir positif
  2. mencoba belajar memahami karakteristik orang lain
  3. mencoba menghargai pendapat dan kelebihan oranglain
  4. introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya
  5. bersabar dan menjadi pemaaf
  6. alih perhatian, ayitu mencoba mengalihkan perhatian pada objek lain dari objek yang pada mulanya memicu pemunculan emosi negatif

Mengendalikan emosi itu penting. Hal ni  didasarkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan diri pada orang lain. Orang-orang yang dijumpai dirumah atau dikampus akan lebih cepat menanggapi emosi daripada kata-kata. Kalau seseorang sampai dirumah dengan wajah murung, bahkan terkesan cemberut dan marah-marah, emosi anggota keluarga yang lain akan bereaksi terhadap emosi tersebut, sehingga mereka merasa tidak enak atau merasa bersalah dan lain sebagainya.

Beberapa cara untuk mengendalikan emosi menurut Mahmud, 1990 :

  1. hadapilah emosi tersebut
  2. jika mungkin, tafsirkan kembali situasinya. Artinya melihat situasi sulit yang dialami dari sudut pandang yang berbeda
  3. kembangkan asa humor dan sikapa realistis
  4. atasi secara lansung problem-problem yang menjadi sumber emosi

Cara lainnya adalah dengan mengekspresikan emosi. Wullur (1970 :16) melukiskan ekspresi sebagai pernyataan batin seseorang dengan cara berkata, bernyanyi, bergerak dengan catatan bahwa ekspresi itu selalu tumbuh karena dorongan akan menjamakan perasaan atau buah pikiran.

Selanjutnya, ekspresi itu dapat mengembangkan sifat kreativitas seseorang. Selain itu ekspresi juga bersifat membersihkan, membereskan (katarsis. Karena itu, ekspresi dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian yang tidak diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi perasaannya. Tanpa ekspresi, bahan yang terpendam itu dapat membahayakan.

Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangkan kecerdasan emosi, salah satunya adalah dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W.T Grant Consertium tentang “Unsur-Unsur Aktif Program Pencegahan” yaitu sebagai berikut :

Pengembangan Keterampilan Emosional

  1. mengidentifikasi dan memberi nama atau label perasaan
  2. mengungkapkan perasaan
  3. menilai intensitas perasaan
  4. mengelola perasaan
  5. menunda pemuasan
  6. mengendalikan dorongan hati
  7. mengurangi stres
  8. memahami perbedaan anatara perasaan dan tindakan

Pengembangan Keterampilan Kognitif

  1. belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri
  2. belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial
  3. belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan pengambilan keputusan
  4. belajar memahami sudut pandang oranglain (empati)
  5. belajar memahami sopan santun
  6. belajar bersikap positif terhadap kehidupan
  7. belajar mengembangkan kesadaran diri

Pengembangan  Keterampilan Perilaku

  1. mempelajari keterampilan komunikasi non verbal,misal melalui pandangan mata,ekspresi wajah, gerak-gerik, posisi tubuh dan lain-lain
  2. mempelajari keterampilan komunikasi verbal, misal mengajukan permintaan dengan jelas, mendiskripsikan sesuatu kepada oranglain dengan jelas, menanggapi kritik secara efektif

Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosi adalah dengan self-science curriculum ( Daniel Goleman , 1995)

  1. belajar mengembangkan kesadaran diri
  2. belajar mengambil keputusan pribadi
  3. belajar mengelola perasaan
  4. belajar menangani stres
  5. belajar berempati
  6. belajar berkomunikasi
  7. belajar membuka diri
  8. belajar menegembangkan pemahaman
  9. belajar menerima diri sendiri
  10. belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
  11. belajar mengembangkan ketegasan
  12. belajar dinamika kelompok
  13. belajar menyelesaikan konflik

Agar emosi positif pada diri remaja dapat berkembang dengan baik, dapat dirangsang, disikapi oleh orang tua maupun guru dengan cara :

  1. orangtua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak  (significant person) dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-ledak
  2. adanya program latihan beremosi baik ssssssdisekolah maupun didalam keluarga, misalnya dalam merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak sejalan sebagaimana mestinya
  3. mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisi-kondisi yang cenderung menimbulkan  emosi negatif dan upaya-upaya menanggapinya secara lebih baik[11]

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Emosi adalah emosi adalah suatu keadaan jiwa yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan suatu reaksi psiklogis yang ditampilkan dalam bentuk tingkah laku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta, dan sejenisnya.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA


[1] ….., Pengertian Emosi,< http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/>,  diakses pada 16/10/2001 pukul  15.25

[2] ….., “Emosi dan Perkembangan Kaarakteristik,<http://asrivixel.blogspot.com/2009/03/emosi-dan-karakteristik-perkembangan.html>, diakses pada 16/10/2011 pukul 15.33

[3]

[4] …..,”Karakteristik Perkembangan Emosi” http://www.anakluarbiasa.com/ArtikelAnakLuarBiasa/Detail/64/Karakteristik-Perkembangan-Emosi.html    diakses pada 16/10/2011 pukul  15.44

[5] Tim Pembina mata kuliah peserta didik. 2007. Perkembangan peserta didik. Padang: HEDS-JICA

[6] ….., “Gejolak Emosi Remaja”,<http://de-kill.blogspot.com/2009/01/gejolak-emosi-remaja.html>,  diakses pada 16/10/2011 pukul  15.49

[7] …..,” KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI, NILAI, MORAL DAN SIKAP REMAJA DIHUBUNGKN DENGAN PROSES BELAJAR,<http://chatroks.blogspot.com/2010/11/karakteristik-perkembangan-emosi-nilai.html>, diakses pada 16/10/2011 pukul  15.35

[8] Tim Pembina mata kuliah peserta didik. 2007. Perkembangan peserta didik. Padang: HEDS-JICA

[9]

[10] …..,…..,” KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI, NILAI, MORAL DAN SIKAP REMAJA DIHUBUNGKAN DENGAN PROSES BELAJAR,<http://chatroks.blogspot.com/2010/11/karakteristik-perkembangan-emosi-nilai.html>, diakses pada 16/10/2011, pukul 15.35

[11]Forumsejawat,“ Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya Bagi Pedidikan” <http://forumsejawat.wordpress.com/2010/10/28/mengembangkan-emosi-remaja-dan-implikasinya-bagi-pendidikan/&gt;  diakses pada 6/11/11  pukul 12.55

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s