KETENAGAKERJAAN INDONESIA

A. Pengertian Angkatan Kerja, Tenaga Kerja, dan Kesempatan Kerja

  1. Pengertian Angkatan Kerja

Angkatan kerja adalah penduduk yang sudah memasuki usia kerja, baik yang sudah bekerja maupun belum bekerja atau sedang mencari pekerjaan.Angkatan kerja adalah penduduk yang berusia 10 tahun ke atas yang mempunyai syarat sebagai berikut ini.

  1. Penduduk yang selama seminggu sebelum pencacahan atau sensus telah mempunyai suatu pekerjaan, baik bekerja maupun sementara tidak bekerja karena suatu sebab, misalnya:

1)      pekerja yang tidak masuk bekerja karena cuti, sakit, mogok, atau diberhentikan sementara, dan

2)      petani yang menunggu panen atau musim hujan tiba.

  1. Tidak mempunyai pekerjaan tetapi sedang mencari kerja.

Kriteria bagi angkatan kerja untuk dapat memasuki dunia kerja adalah:

  1. jenis pendidikan,
  2. keahlian khusus yang dimiliki,
  3. pengalaman kerja,
  4. kesehatan yang prima,
  5. sikap kepribadian dan kejujuran.
  1. Pengertian Tenaga Kerja

            Menurut Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Mengenai perumusan tenaga kerja, setiap negara memberikan batasan yang berbeda-beda. Misalnya, Amerika Serikat menetapkan batas minimal usia tenaga kerja 16 tahun dan India menetapkan usia kerja antara 14 – 60 tahun. Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan di Indonesia, tenaga kerja adalah penduduk yang telah berusia 18 tahun atau lebih, dan tidak menganut batas umur maksimal. Jadi, penduduk yang berusia kerja (usia 18 tahun ke atas) yang aktif secara ekonomi, masih digolongkan sebagai tenaga kerja.

  1. Pengertian Kesempatan Kerja

            Kesempatan kerja (employment) merupakan jumlah lowongan kerja yang tersedia di dunia kerja, atau banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia untuk angkatan kerja. Di Indonesia masalah kesempatan kerja dijamin di dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 2 yang berbunyi ”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”. Jadi, pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas penciptaan kesempatan kerja serta perlindungan terhadap tenaga kerja.

            Kesempatan kerja berhubungan erat dengan kemampuan tenaga kerja untuk dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia, serta perusahaan-perusahaan untuk menyerap sumber daya manusia dalam proses produksi. Pemerintah maupun masyarakat telah melakukan berbagai cara untuk memperluas kesempatan kerja, misalnya:

  1. menyelenggarakan kursus-kursus keterampilan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat,
  2. meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelaksanaan wajib belajar 9 tahun, dan
  3. mendirikan berbagai macam usaha seperti usaha industri, agraris, jasa, maupun perdagangan.

B. Permasalahan dalam Tenaga Kerja Indonesia

Berbagai permasalahan mengenai tenaga kerja di Indonesia antara lain:

  1. Jumlah Angkatan Kerja yang Tidak Sebanding dengan Kesempatan Kerja

       Jika kita mengikuti perkembangan dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi kita dapat menemukan fakta sedemikian banyak para sarjana yang dihasilkan dari perguruan tinggi. Adakalanya sebuah perguruan tinggi dalam satu tahun mewisuda lulusan sarjana dua angkatan yang masing-masing angkatan bisa mencapai ratusan sarjana. Padahal di Indonesia sendiri ada puluhan perguruan tinggi yang berarti menghasilkan ratusan bahkan ribuan lulusan sarjana yang dicetak setiap tahunnya. Mereka ( para lulusan sarjana) adalah calon-calon tenaga kerja yang siap bersaing di pasaran tenaga kerja. Namun sayangnya hal tersebut sungguh tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Dengan demikian, tidak sepenuhnya ribuan sarjana yang dihasilkan perguruan tinggi tersebut dapat tersalurkan dalam dunia kerja. Ini merupakan permasalahan yang pelik, bukan saja bagi yang bersangkutan, melainkan juga bagi pemerintah. Ketidaktertampungan calon tenaga kerja pada dunia kerja merupakan bentuk permasalahan yang serius di berbagai negara.

  1. Mutu Tenaga Kerja yang Relatif Rendah

Meskipun banyak lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan, namun seringkali lowongan tersebut tidak bisa terpenuhi karena kriteria yang diharapkan oleh perusahaan tidak sesuai dengan kemampuan calon tenaga kerja yang ada. Seringkali perusahaan menghendaki tenaga kerja yang sudah berpengalaman. Padahal tidak semua calon tenaga kerja yang melamar memiliki pengalaman yang disyaratkan tersebut.

  1. Persebaran Tenaga Kerja yang Tidak Merata

Seringkali orang dalam mencari pekerjaan memperhitungkan lokasi tempat pekerjaan. Bahkan ada sebagian masyarakat yang rela memperoleh pekerjaan seadanya yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dimiliki hanya karena tertarik dengan lokasi pekerjaan tersebut. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan persebaran tenaga kerja tidak merata. Hal ini erat kaitannya dengan pola pikir tradisional yang memegang erat falsafah “ makan tidak makan asal berkumpul “, di mana orang merasa berat meninggalkan kampung halamanannya .

4. Pengangguran

Ketidakmampuan calon tenaga kerja memperoleh pekerjaan menimbulkan pengangguran. Kondisi ini memang sangat memprihatinkan karena potensi yang sebenarnya ada tidak dapat tersalurkan secara tepat. Jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja mengakibatkan tidak semua angkatan kerja dapat diserap oleh lapangan kerja sehingga mengakibatkan pengangguran. Hal ini lebih diperparah dengan banyaknya tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran menimbulkan berbagai dampak dalam kehidupan sosial, antara lain:

1)      Rendahnya pendapatan per kapita penduduk.

2)      Meningkatnya kemiskinan.

3)      Meningkatnya angka kriminalitas yang dipicu kesulitan ekonomi.

4)      Merosotnya moral yang ditandai dengan meningkatnya pelaku tindak asusila bermotifkan ekonomi. Kecenderungan memperoleh uang dalam jumlah besar dengan melakukan prostitusi.

5)      Kondisi keamanan yang tidak terjamin akibat dari meningkatnya angka kriminalitas.

6)      Rendahnya kualitas kehidupan masyarakat.

7)      Merebaknya kawasan slum (lingkungan kumuh).

  1. Kurang Sesuainya Kemampuan Tenaga Kerja dengan Pekerjaannya

Menurut F.W.Taylor, seseorang seharusnya bekerja sesuai dengan keahliannya (the right man in the right place). Jika seseorang dapat bekerja sesuai dengan keahliannya, maka ia akan dapat bekerja dengan efektif dan efisien, sehingga dapat mencapai kualitas dan kuantitas kerja yang tinggi. Di Indonesia, seringkali terjadi seseorang tidak bekerja sesuai dengan keahliannya, sehingga ia tidak dapat bekerja dengan efektif dan efisien.

C. Dampak Pengangguran Terhadap Keamanan Lingkungan

            Jumlah penduduk yang banyak sebagai tenaga kerja, tetapi karena tidak diimbangi dengan fasilitas lapangan kerja, maka terjadilah pengangguran dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini akan berdampak pada timbulnya masalah-masalah sosial, di antaranya adalah:

a)      meningkatnya kriminalitas;

b)      munculnya lingkungan rumah;

c)      kualitas hidup yang makin menurun;

d)     kesehatan penduduk yang makin memburuk; dan

e)      rawan drop out dalam usia pendidikan.

D. Peningkatan Mutu/Kualitas Tenaga Kerja

Jumlah dan kualitas tenaga kerja akan turut menentukan jumlah dan kualitas hasil produksi. Kualitas tenaga kerja banyak ditentukan oleh pendidikan, latihan, kondisi fisik , dan sikap mental.

  1. Pendidikan dan Latihan

Pendidikan dan latihan memberikan sumbangan yang sangat penting dalam peningkatan kemampuan tenaga kerja manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik tingkat pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya. Pendidikan umumnya diperoleh dari pendidikan formal. Sementara itu latihan lebih menekankan kepada keterampilan-keterampilan teknis yang siap pakai, misalnya keterampilan menjahit, keterampilan membengkel, ketrampilan pertukangan dan lain-lain. Pelatihan banyak diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan keterampilan baik swasta maupun pemerintah.

  1. Kondisi Fisik

Kondisi fisik tenaga kerja merupakan bagian penting dari kualitas tenaga kerja. Tenaga kerja hanya akan bekerja dengan baik jika fisiknya sehat. Kondisi ini sangat tergantung pada lingkungan kerja, balas jasa, dan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh perusahaan. Lingkungan kerja yang kotor dan tidak adanya fasilitas kesehatan akan menyebabkan tenaga kerja mudah mengalami gangguan . Demikian juga dengan tingkat upah yang terlalu rendah akan menyebabkan rendahnya gizi makanan yang dikonsumsi.

  1. Sikap Mental

Yang termasuk sikap mental tenaga kerja misalnya jujur, rajin, ulet, bisa dipercaya dan mempercayai, bertanggung jawab, berinisiatif, kreatif, komunikatif, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman, dunia usaha lebih mementingkan sikap-sikap semacam ini ketimbang rata-rata nilai atau indeks prestasi yang tinggi, asal sekolah, atau jurusan.

E. Peran Pemerintah dalam Mengatasi Masalah Tenaga Kerja Indonesia

  1. Membuka Kesempatan Kerja

Menurut Prof. Soemitro Djoyohadikoesoemo, usaha perluasan kesempatan kerja dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan pengembangan industri terutama industri padat karya dan penyelenggaraan proyek pekerjaan umum. Pengembangan industry dapat dilakukan dengan meningkatkan penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri. Penyelenggaraan proyek pekerjaan umum dapat dilakukan dengan pembuatan jalan, jembatan, saluran air, bendungan, dan lain-lain. Perluasan kesempatan kerja juga dilakukan oleh pemerintah dengan cara mengirimkan tenaga-tenaga kerja Indonesia ke luar negeri baik melalui departemen tenaga kerja maupun melewati perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI).

  1. Mengurangi Tingkat Pengangguran

Pengangguran merupakan salah satu permasalahan ketenagakerjaan. Menurut John Maynard Keynes pengangguran tidak dapat dihapuskan, namun hanya dapat dikurangi. Pengurangan angka pengangguran hanya dapat terjadi dengan meningkatkan atau memperluas kesempatan kerja dan menurunkan jumlah angkatan kerja.

Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka pengangguran antara lain:

  1. Pemberdayaan angkatan kerja dengan cara mengirimkantenaga kerja ke negara/daerah lain yang memerlukan.
  2. Pengembangan usaha sektor informal dan usaha kecil.
  3. Pembinaan generasi muda yang masuk angkatan kerja melalui pemberian kursus keterampilan, pembinaan home industry.
  4. Mengadakan program transmigrasi.
  5. Mendorong badan usaha untuk proaktif mengadakan kerja sama dengan lembaga pendidikan.
  6. Mendirikan tempat latihan kerja seperti Balai Latihan Kerja (BLK).
  7. Mendorong lembaga- lembaga pendidikan untuk meningkatkan life skill.
  8. Mengefektifkan pemberian informasi ketenagakerjaan melalui lembaga-lembaga yang terkait dengan upaya perluasan kesempatan kerja.
  9. Meningkatkan Kualitas Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja

Kualitas kerja dapat ditingkatkan melalui usaha-usaha berikut.

  1. Latihan untuk pengembangan keahlian dan keterampilan kerja (profesionalisme) tenaga kerja dengan mendirikan balai-balai latihan kerja.
  2. Pemagangan melalui latihan kerja di tempat kerja.
  3. Perbaikan gizi dan kesehatan.
  4. Meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat dan menyesuaikan keahlian masyarakat dengan kebutuhan dunia usaha melalui pendidikan formal, kursus-kursus kejuruan, dan lain-lain.
  5. Meningkatkan Kesejahteraan Tenaga Kerja

Untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, pemerintah telah melakukan berbagai upaya sebagai berikut.

  1. Menetapkan upah minimum regional (UMR).
  2. Mengikutkan setiap pekerja dalam asuransi jaminan sosial tenaga kerja.
  3. Menganjurkan kepada setiap perusahaan untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.
  4. Mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk memenuhi hakhak tenaga kerja selain

 

Sumber :

  • Sutarto dkk., 2008, IPS Untuk SMP/MTs Kelas VIII, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  • Sanusi Fattah dkk., 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk SMP/MTs Kelas VIII, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  • Sri Sudarmi dan Waluyo, 2008, Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu Untuk SMP/MTs Kelas VIII, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  • Kurtubi, 2008, Sudut Bumi IPS Terpadu, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  • Sugiharsono, dkk., 2008, Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Sosial: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

 

file pdf dpt di download di : https://iephant46.wordpress.com/?attachment_id=120

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s